Ada perjalanan yang tidak hanya membawa kita berpindah tempat, tetapi juga mengubah cara kita memandang alam. Perjalanan menuju Punggu Alas di Taman Nasional Sebangau adalah salah satunya.
Selama tiga hari, kami menyusuri sungai berwarna gelap khas hutan gambut, berjalan di antara akar-akar pohon yang menjulang, mendengar suara alam tanpa gangguan kendaraan, dan sesekali menahan napas ketika seekor orangutan muncul dari balik dedaunan.
Jika Anda sedang mencari pengalaman wisata alam yang berbeda di Kalimantan, maka perjalanan ke Punggu Alas Taman Nasional Sebangau wajib masuk dalam daftar petualangan Anda.
Hari Pertama: Menyusuri Sungai Sebangau Menuju Jantung Hutan Gambut
Perjalanan dimulai dari Kota Palangka Raya pada pagi hari. Udara masih terasa segar ketika kami menuju dermaga kecil tempat kelotok—perahu kayu tradisional khas Kalimantan—telah menunggu.
Mesin perahu mulai menyala perlahan. Sungai Sebangau membentang tenang di hadapan kami, memantulkan warna langit pagi yang samar. Air sungai tampak gelap seperti kopi hitam, sesuatu yang khas dari kawasan hutan gambut.
Semakin jauh meninggalkan kota, suasana berubah drastis. Tidak ada suara klakson. Tidak ada gedung tinggi. Yang terdengar hanya suara mesin perahu, burung-burung liar, dan gesekan ranting pohon yang tertiup angin.
Di sepanjang perjalanan menuju Punggu Alas, kami mulai melihat kehidupan liar yang masih sangat alami. Beberapa ekor monyet ekor panjang tampak melompat di antara cabang pohon. Burung enggang terbang melintas dengan kepakan sayap yang begitu khas.
Pemandu lokal kami kemudian bercerita tentang pentingnya Taman Nasional Sebangau sebagai salah satu habitat orangutan terbesar di dunia. Kawasan ini bukan sekadar destinasi wisata, tetapi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna.
Setelah beberapa jam perjalanan, kami tiba di kawasan Punggu Alas.
Tempat ini terasa begitu sunyi, namun justru di situlah keindahannya. Tidak ada keramaian wisatawan. Hanya hutan, sungai, dan kehidupan liar yang berjalan sebagaimana mestinya.
Sore harinya kami melakukan trekking singkat di jalur kayu yang membelah hutan gambut. Langkah demi langkah membawa kami semakin masuk ke suasana hutan tropis Kalimantan yang lembap dan misterius.
Ketika matahari mulai turun, warna langit berubah jingga keemasan. Momen itu terasa seperti lukisan hidup.
Malam pertama di Punggu Alas ditutup dengan makan malam sederhana di tengah suara serangga malam dan gemericik air sungai.
Tidak ada sinyal kuat.
Tidak ada notifikasi.
Hanya ketenangan.
Pagi di Sebangau dimulai dengan suara alam.
Bukan alarm ponsel.
Dari kejauhan terdengar suara burung dan gesekan daun yang tertiup angin. Kabut tipis masih menggantung di atas sungai ketika kami bersiap untuk trekking lebih dalam.
Hari kedua menjadi momen yang paling ditunggu: mencari orangutan liar.
Perjalanan trekking dilakukan dengan hati-hati karena jalur hutan gambut cukup lembap. Beberapa bagian terasa lunak, sementara akar-akar pohon besar membentuk pola alami di tanah.
Pemandu meminta kami tetap tenang dan tidak banyak berbicara.
Beberapa menit kemudian, ia memberi isyarat.
Kami berhenti.
Di atas pohon tinggi, seekor orangutan terlihat sedang bergerak perlahan sambil membawa ranting kecil.
Momen itu sulit dijelaskan.
Melihat orangutan langsung di habitat aslinya memberikan perasaan yang sangat berbeda dibanding melihatnya di televisi atau kebun binatang. Ada rasa kagum sekaligus sadar bahwa hutan ini adalah rumah mereka.
Kami mengamati dari jarak aman sambil mendengarkan penjelasan tentang perilaku orangutan dan upaya konservasi di Taman Nasional Sebangau.
Selain orangutan, kawasan ini juga menjadi habitat berbagai satwa lain seperti bekantan, owa, rusa, hingga berbagai jenis burung endemik Kalimantan.
Siang harinya kami kembali ke camp untuk makan dan beristirahat sejenak.
Menjelang sore, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sungai kecil menggunakan perahu. Cahaya matahari yang menembus pepohonan menciptakan suasana dramatis yang sulit dilupakan.
Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti untuk menikmati kopi panas sambil memandangi hutan yang perlahan berubah warna saat senja.
Hari kedua di Punggu Alas terasa begitu emosional.
Bukan hanya tentang melihat satwa liar, tetapi juga belajar menghargai alam yang selama ini mungkin terlalu sering kita abaikan.
Hari terakhir selalu terasa paling cepat.
Pagi itu kami memilih duduk lebih lama di tepi sungai. Kabut tipis perlahan menghilang, memperlihatkan pantulan pohon-pohon tinggi di permukaan air.
Sebelum kembali ke Palangka Raya, kami sempat berbincang dengan masyarakat lokal dan pemandu tentang kehidupan di sekitar kawasan Sebangau.
Mereka bercerita bagaimana hutan gambut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mencegah perubahan iklim.
Kami juga belajar bahwa menjaga Sebangau berarti menjaga salah satu paru-paru dunia.
Perjalanan pulang terasa berbeda.
Selama tiga hari di Punggu Alas, kami bukan hanya menikmati wisata alam Kalimantan, tetapi juga mendapatkan pengalaman yang sulit dicari di tempat lain: ketenangan, koneksi dengan alam, dan kesadaran tentang pentingnya konservasi.
Ketika perahu kembali menyusuri Sungai Sebangau menuju kota, suasana hutan perlahan menghilang di belakang kami.
Namun rasa yang ditinggalkan perjalanan ini masih terus tinggal.

Comments